Rabu, 09 September 2026
Hot

Krisis Lahan di Jakarta dan Sydney Dorong Minat Hunian ke Pinggiran

Fenomena keterbatasan lahan di pusat kota menyebabkan tren properti bergeser ke area suburban di Jakarta dan Sydney. Simak analisis dan potensi investasi hunian tapak di pinggiran Sydney.

Article ad before first paragraph

HARIANEXPRESS, JAKARTA – Fenomena krisis lahan di kota besar mendorong pergeseran minat hunian ke area pinggiran, sebuah tren yang terlihat di Jakarta dan Sydney.

Director & CEO Capital Value International Group (CVIG) Chandra Leonardi menyoroti peluang investasi di tengah kelangkaan ini.

Di Indonesia, lebih dari 60 persen pencari rumah usia produktif fokus pada hunian tapak di kawasan penyangga Jakarta seperti Tangerang, Bogor, Bekasi, dan Depok pada paruh pertama 2026.

Keterbatasan lahan dan tingginya harga di pusat kota Jakarta menjadi pendorong utama.

Article ad in the middle of article

Fenomena serupa juga dialami Sydney, Australia, seiring penerapan cetak biru tata kota terbaru The Sydney Plan oleh Pemerintah New South Wales.

Kebijakan ini memfokuskan pembangunan hunian vertikal di wilayah timur serta pusat kota, sementara kawasan suburban di koridor barat, barat daya, dan selatan dialokasikan untuk pusat kerja baru serta area pengembangan rumah tapak.

Keterbatasan geografis menjadi faktor utama yang membatasi ekspansi fisik Sydney.

Wilayah timur berbatasan dengan Samudra Pasifik, utara oleh Ku-ring-gai Chase National Park dan Sungai Hawkesbury, selatan oleh Royal National Park serta area lindung Woronora, dan barat oleh pegunungan Blue Mountains National Park.

Kondisi ini menyebabkan ketersediaan lahan kosong skala besar dalam radius 30 menit dari Sydney Harbour menjadi sangat sulit ditemukan.

Hal ini mendorong penerapan infill development, urban renewal, dan densifikasi vertikal di area strategis seperti Parramatta dan Macquarie Park.

Selain itu, pembeli internasional seperti dari Indonesia menghadapi batasan regulasi properti Australia yang hanya mengizinkan akses ke properti bangunan baru dan proyek off-the-plan.

Pembeli asing tidak dapat mengakses pasar hunian sekunder.

“Kelangkaan properti Sydney bukan hanya persoalan tingginya permintaan, tetapi juga keterbatasan geografis yang membuat kota ini sulit terus berkembang ke luar,” ujar Director & CEO Capital Value International Group (CVIG) Chandra Leonardi, dikutip dari keterangan tertulis, Senin (7/9/2026).

Salah satu kawasan yang mulai dilirik adalah Roselands di Barat Daya Sydney, yang berjarak sekitar 20-30 menit berkendara dari Central Business District (CBD).

Roselands menawarkan lingkungan residensial dominan dengan komunitas keluarga yang kuat.

“Karena itu, pertanyaan investasinya bukan sekadar ‘Di mana Sydney akan berkembang?’ melainkan, ‘Berapa banyak lahan yang masih dapat dikembangkan di lokasi Sydney yang paling diinginkan-dan berapa banyak yang benar-benar dapat diakses oleh foreign buyers?’ Di situlah nilai kelangkaan Sydney sebenarnya berada,” kata Chandra.

Dengan sekitar 70 persen penduduknya merupakan pemilik rumah dan hanya 30 persen penyewa, Roselands menunjukkan basis permintaan yang stabil.

Ini memberikan nilai tambah bagi investor karena pasar yang didominasi pemilik cenderung menciptakan nilai aset yang meningkat seiring kelangkaan penawaran.

“Bagi pembeli Indonesia, Roselands menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di Sydney, yakni kesempatan memiliki properti landed di kawasan metropolitan dengan akses yang relatif dekat ke CBD, namun tetap memiliki karakter lingkungan keluarga yang sangat residential,” ucap Chandra.

Pasar properti Australia, khususnya di area seperti Roselands, menawarkan potensi pertumbuhan nilai jangka panjang.

Hal ini menjadikannya pilihan menarik bagi pembeli yang mencari lingkungan tenang namun dekat dengan pusat kota.

Article ad after last paragraph