HARIANEXPRESS, JAKARTA – Harga tanah di kawasan Sudirman Central Business District (SCBD) mencapai Rp300 juta per meter persegi, menjadikannya termahal. Pemicunya adalah aktivitas ekonomi tinggi di wilayah tersebut. Senin (7/9/2026)
Angka fantastis Rp200 juta hingga Rp300 juta per meter persegi ini menempatkan SCBD sebagai kawasan dengan harga tanah tertinggi di Jakarta, bahkan di Indonesia.
Sebagai kota metropolitan dan pusat perekonomian, Jakarta secara umum memang dikenal dengan harga tanah yang mahal. Tingginya aktivitas bisnis menjadi faktor utama.
“Di SCBD harga tanah dapat mencapai Rp 300 juta-an per meter persegi,” ujar Head of Research & Consultancy PT Leads Property Service Indonesia Martin Hutapea kepada detikProperti, Minggu (6/9/2026).
Martin menjelaskan bahwa berbagai aktivitas komersial seperti perkantoran, visitasi tamu hotel, rekreasi di mal, serta konsumsi individu dan rumah tangga berskala besar, menciptakan kegiatan ekonomi di SCBD. Hal ini mendorong peningkatan nilai lahan dalam jangka panjang.
“(Harga tanah di Jakarta mahal) karena kegiatan ekonomi dan segmen yang terbentuk lebih tinggi ketimbang kota-kota lain,” kata Martin.
Selain dinamika ekonomi kawasan, interaksi antara penawaran dan permintaan juga berperan penting dalam pembentukan harga lahan. Patokan harga tanah pada umumnya adalah harga awal pembelian ditambah ekspektasi keuntungan subjektif pemilik.
“Jadi ada suatu harapan atau ekspektasi dari pemilik lahan akan nilai lahan tersebut,” kata Martin.
Akibat lonjakan harga yang sangat tinggi, transaksi jual beli lahan di SCBD menjadi relatif jarang terjadi. Kawasan ini didominasi bangunan mixed-use seperti kantor, ritel, hotel, dan apartemen, membentuk komunitas bisnis dan hunian besar.
Sebagai perbandingan, harga tanah di Menteng berkisar Rp70–100 juta per meter persegi dan Pondok Indah sekitar Rp40–60 juta per meter persegi.
Sementara itu, di wilayah pinggiran seperti Marunda, Cilincing, serta perbatasan Jakarta Timur dan Bekasi, harga tanah masih di kisaran Rp3 juta per meter persegi karena profil kawasan menengah ke bawah dan minimnya perkembangan komersial.


